Live Streaming Muktamar Khilafah 2013 Jakarta

Saksikan Live Streaming Muktamar Khilafah 2 Juni 2013 Gelora Bung Karno, Jakarta

Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5

Semarak Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5/13. Dukungan kaum muslimin semakin besar terhadap tegaknya Khilafah

Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Stadion Teladan 26 Juni 2013 Menjadi saksi Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Jejak Syariah dan Khilafah di Sumatera

Gema syariah dan khilafah di Nusantara kian nyaring terdengar. Bahkan menurut sebuah harian Ibukota, diberitakan bahwa beberapa waktu lalu digelar debat terbuka di kampus Unpad Bandung bertemakan penerapan syariat Islam dengan pembicara dari Tokoh Islam, M. Ismail Yusanto dan fungsionaris Parpol Nasrani, Pdt Ruyandi Hutasoit.

Halqah Islam dan Peradaban

Pengamant Politik USU : Umat Islam harus pilih Ideologi Islam

Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Monday, February 18, 2013

Korupsi adalah karena kebutuhan dari Sistem Demokrasi

Ustd Azwir dan Tokoh Ulama Medan
Medan. Ustd Azwir Ibnu Aziz dari DPD HTI Sumut menyatakan Partai-partai Islam merupakan kanalisasi dr sistem demokrasi. "Agar publik menganggap Indonesia negara religius padahal korup", ungkapnya kepada peserta Halqoh Islam dan Peradaban Minggu (17/2) di Amaliun Food Court Medan.

Menurut Ustd Azwir penyebab Gubernur korupsi adalah karena kebutuhan dari sistem demokrasi. Karena untuk menjadi Gubernur seseorang harus menyiapkan dana 70-100 Milyar. "Jadi Gubernur korupsi sudah keharusan dari demokrasi tidak bisa tidak" tegasnya.

Apalagi, kuaknya, selama ini tidak terlihat jelas keberpihakan Gubernur terhadap Umat dan tidak terlihat jelas memperjuangkan kepentingan umat. "Selama sistemnya masih demokrasi Gubernur sebagus apa pun tetap tidak dapat berbuat apa-apa untuk kepentingan umat apalagi untuk menerapkan Syariat Islam", keluhnya.

Sebelumnya Plt Gubernur Sumut menyatakan biaya Pilgub Sumut Capai Rp 564 Milyar (tribunnews.com) sedangkan biaya kampanye Calon Gubernur, jika berkaca dari Pilkada DKI, terendah Rp 4,1 Milyar dan tertinggi Rp 62,6. Sementara Gaji Pokok Gubernur hanya Rp 8 juta.

Sementara Ustd Ayyubi menyatakan umat Islam selalu terjebak pada sistem demokrasi. "Keledai saja tidak mau jatuh ke dalam lubang dua kali. Lha kita manusia, muslim lagi. Sudah berapa kali kita terjebak sama sistem demokrasi. Dengan memilih pemimpin yang tidak menerapkan syariah" tegas beliau.

Ustd Ayyubi menawarkan solusi dalam menyikapi pilkada jalan satu-satunya adalah melakukan perubahan secara terus menerus. Dakwah akan membentuk opini masyarakat. Masyarakat akan bangkit dan menuntut syariah dan khilafah. (fatah)

Para Narasumber
Ibu-Ibu serius mendengarkan
Kaum muslimin mendukung Syariah dan Khilafah
Suasana Halqoh Islam dan Peradaban Amaliun Food Court Medan

Thursday, February 14, 2013

Inilah Alasan Mengapa Isu Terorisme Terus Dipelihara

HTI Press. Jakarta. Setidaknya ada dua kepentingan sehingga pemerintah Indonesia terus memelihara  isu terorisme. Pertama, ingin menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia masih konsern terhadap program yang dicetuskan Amerika yakni perang global memerangi terorisme.

“Meski di Amerika sendiri relevansinya sudah dipertanyakan,” ungkap Ismail Yusanto, dalam talkshow Halqoh Islam dan Peradaban, Rabu (13/2) di Aula Dewan Pers, Kebun Sirih, Jakarta.

Kedua, lanjut Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia tersebut, ada kepentingan yang lebih sektoral, Kepentingan institusi, atau lebih personal lagi, ada kepentingan person-person di Densus 88 untuk memelihara lembaganya. “Karena di situ ada proyek, di situ ada dana, di situ ada macam-macam,” tudingnya.

Ismail mengatakan, publik tahu bahwa anggaran buat Densus 88 itu terus naik dan harus ada pertanggungjawabannya. Terakhir 300 atau 400 milyar Densus dapatkan dari APBN. Nah, ini kan harus ada pertanggungjawabnnya, harus ada relevansinya. Harus ada kerjaannya.

“Di situlah Densus 88 memelihara isu terorisme, dari cerita kawan yang ditangkap Densus 88. Densus itu menyusup-nyusupkan orang-orangnya dan mengaitkan target dengan orang itu agar dipersepsikan target itu sebagai teroris.”

Di hadapan sekitar 150 peserta yang hadir, Ismail menyatakan kaum Muslim harus memikirkan secara serius masalah Densus 88. Karena bila dibiarkan, umat Islam akan terus jadi korban objekan Densus 88.
“Ini luar biasa, kalau sekedar salah tangkap, masih bisa dibebaskan, kalau salah tembak? Tidak sedikitkan yang salah tembak, apakah Densus bisa menghidupkannya lagi?” ungkapnya retoris dalam acara yang bertema Bubarkan Densus 88.

Densus 88 Dzalim
Dalam acara bulanan yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia tersebut, Ismail pun menyatakan bahwa Densus 88 dzalim. “Kalau kita bilang dzalim, ya ini dzalim, kalau kita bilang ini keterlaluan ya keterlaluan,” ungkapnya.

Ismail pun menyebutkan beberapa kedzaliman Densus 88. Salah satu adik korban salah tangkap di Bima bercerita pada Ismail bahwa kakaknya itu orang biasa-biasa saja. “Kalau mau disebut radikal, radikalan dia daripada kakaknya, tetapi kakaknya ditangkap dengan proses yang luar biasa ditayangkan televisi.

Densusnya pakai senjata lengkap. Padahal orang itu biasa-biasa saja. Tidak melakukan apa-apa. densus 88 sudah ngaku keliru. Dan melepaskannya dengan memberi uang Rp 500 ribu. Ditolak sama keluarganya. Kenapa? Karena orang ini sudah bonyok tidak karu-karuan. Ibunya stres memikirkan anaknya ini hingga struk sampai sekarang,” beber Ismail.

Selain kasus salah tangkap di atas, Ismail pun menceritakan fakta salah tembak di Bima yang didapatnya dari Pembina TPM Achmad Michdan.

“Ada yang ditembak tapi tidak tahu namanya. Suatu saat, Densus 88 baru mencari nama orang yang ditembaknya itu. Cari tahunya ke mana? kepada keluarganya. Kata keluarganya, jangan kasih tahu, biar tahu rasa dia.”

Menurut Ismail, Densus benar-benar dzalim. Sudah nembak, tidak tahu siapa namanya yang ditembak itu. “Kalau salah tangkap masih mending bisa dilepaskan, kalau salah tembak seperti ini bagaimana, apakah Densus bisa menghidupkan?” ungkapnya.[] Joko Prasetyo

Monday, February 11, 2013

[FOTO] Tabligh Akbar Solidaritas Suriah se-Jabodetabek Ahad (10/2/ 2013)

Tabligh Akbar Solidaritas Suriah se-Jabodetabek yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia Masjid Al Bina Gelora Senayan Jakarta Ahad (10/2/ 2013)


Faisal Abbas, Ketua DPD I HTI DKI Jakarta
Farid Wadjdi, Ketua DPP HTI
Abu Hafidz, Relawan Mer-C yang menjadi Tim Relawan ke Suriah
Tun Kelana Jaya, Central Media Office Hizbut Tahrir
Rokhmat S Labib, Ketua DPP HTI

Vonis 15 Tahun Ustadz Abu Bakar Ba’asyir atas Tekanan CIA

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang ditahan dan divonis 15 tahun merupakan atas desakan dinas rahasia, CIA terhadap pemerintah Indonesia.

Demikian dikatakan Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Sabtu (9/10).
Menurut Haris, penahanan terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sangat politis dan bentuk penzaliman terhadap ulama. “Jadi sangat politis,” ungkap Harits.

Kata Harits, Ustadz Abu yang divonis 15 tahun penjara merupakan kezaliman produk kemitraan konspiratif Indonesia-Amerika dengan korban sebagian kelompok umat Islam.”Konspirasi Indonesia-Amerika menjadikan Islam di diskreditkan dengan beragam strategi opini dan propaganda,” ungkap Harits.

Harist mengatakan, target utama konspirasi Indonesia-Amerika menjadikan Islam moderat dan liberal. “Yang boleh tumbuh berkembang karena Islam versi Amerika inilah yang akan menjaga eksistensi kepentingan barat,” tegas Harits.

Harits menganggap wajar wakil rakyat segera memanggil BIN dan meminta pertanggungjawaban atas konspirasi Indonesia-Amerika tersebut.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional, Open Society Foundation (OSF), merilis data mengejutkan tentang keterlibatan 54 negara termasuk di dalamnya Indonesia, dalam aktivitas penyiksaan, penculikan, penahanan, pemindahan seseorang ke negara lain tanpa melalui proses hukum, dan penculikan terduga teroris oleh badan intelijen Amerika Serikat (AS), CIA. (iitoday.co.id, 9/2)

Indonesia Ternyata Kaki Tangan CIA

Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional, Open Society Foundation (OSF), merilis data mengejutkan tentang keterlibatan 54 negara termasuk di dalamnya Indonesia, dalam aktivitas penyiksaan, penculikan, penahanan, pemindahan seseorang ke negara lain tanpa melalui proses hukum, dan penculikan terduga teroris oleh badan intelijen Amerika Serikat (AS), CIA.

Dalam laporannya yang dipublikasikan, Selasa (5/2/2013), dengan judul Penyiksaan Global: CIA Rahasia Penahanan dan Rendition Luar Biasa, OSF mengatakan, program kontraterorisme CIA dengan ke 54 negara itu telah menjaring sebanyak 136 orang terduga teroris.

Ke 54 negara tersebut beber OSF adalah, Afghanistan, Albania, Aljazair, Australia, Austria, Azerbaijan, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Kanada, Kroasia, Siprus, Republik Ceko, Denmark, Djibouti, Mesir, Ethiopia, Finlandia, Gambia, Georgia, Jerman, Yunani, Hong Kong, Islandia , Indonesia, Iran, Irlandia, Italia, Yordania, Kenya, Libya, Lithuania, Macedonia, Malawi, Malaysia, Mauritania, Maroko, Pakistan, Polandia, Portugal, Rumania, Saudi Arabia, Somalia, Afrika Selatan, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Suriah, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris, Uzbekistan, Yaman, dan Zimbabwe.

Peran ke 54 negara-negara tersebut dalam membantu CIA bermacam-macam, misalkan Iran , yang selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan AS, berpartisipasi dengan menyerahkan setidaknya 15 terduga teroris ke tangan pihak berwenang AS tanpa melalui kota Kabul, Afghanistan tanpa proses hukum yang berlaku.

Tak hanya Iran, sejumlah negara lainnya dalam daftar rekanan CIA itu juga melakukan hal yang serupa, seperti Zimbabwe yang menyerahkan lima orang terduga teroris yang mereka tangkap di Malawi pada Juni 2003, ke CIA.

Turki, negara lain yang berada di dalam daftar yang juga merupakan sekutu NATO, membantu CIA dengan mengizinkan beroperasinya perusahaan penerbangan Richmor Aviation, yang telah dikaitkan dengan CIA. Mereka mengizinkan pesawat yang dioperasikan Richmor, mengisi bahan bakar di kota Adana pada tahun 2002 dan menyerahkan tersangka teroris berkewarganegaraan Irak kepada CIA di tahun 2006.

Banyak negara-negara lainnya yang berada di dalam daftar yang menjadi tuan rumah bagi program penerbangan redensi CIA, termasuk diantaranya Sri Lanka, Thailand, Afghanistan, Belgia dan Azerbaijan. (itoday.co.id, 7/2)

Saturday, February 2, 2013

Video Jubir HTI Bebaskan Naveed Butt

[VIDEO] Jubir HTI: Bebaskan Naveed Butt