Live Streaming Muktamar Khilafah 2013 Jakarta

Saksikan Live Streaming Muktamar Khilafah 2 Juni 2013 Gelora Bung Karno, Jakarta

Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5

Semarak Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5/13. Dukungan kaum muslimin semakin besar terhadap tegaknya Khilafah

Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Stadion Teladan 26 Juni 2013 Menjadi saksi Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Jejak Syariah dan Khilafah di Sumatera

Gema syariah dan khilafah di Nusantara kian nyaring terdengar. Bahkan menurut sebuah harian Ibukota, diberitakan bahwa beberapa waktu lalu digelar debat terbuka di kampus Unpad Bandung bertemakan penerapan syariat Islam dengan pembicara dari Tokoh Islam, M. Ismail Yusanto dan fungsionaris Parpol Nasrani, Pdt Ruyandi Hutasoit.

Halqah Islam dan Peradaban

Pengamant Politik USU : Umat Islam harus pilih Ideologi Islam

Saturday, January 19, 2013

Remaja Smart With Islam Pejuang Khilafah, Yess!!!!!


Remaja “katanya” dianggap sebagai generasi yang labil, gampang terpengaruh, apatis dengan kondisi sekitar bahkan egois karena lebih banyak menuntut hak daripada melaksanakan kewajiban. Ditambah lagi, mereka yang terjerat oleh pemikiran sekulerisme-liberalisme dan materialisme telah menjadi sasaran empuk bagi para kapitalis, untuk mengkonsumsi berbagai jenis produk yang terkait Food, Film, Fashion and Fun 

Sistem kapitalisme secara nyata telah menelantarkan remaja sehingga mereka masuk dalam kubangan perbuatan amoral dan kriminal yang meresahkan keluarga, masyarakat bahkan negara. Kapitalisme telah gagal memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada remaja dan sudah sepatutnya ditinggalkan juga di buang jauh-jauh dalam kantong sampah sejarah dan mengambil sistem pengganti yang berasal dari Allah SWT. Sistem ini telah di dirikan oleh Rasulullah SAW dan berlangsung selama 14 abad lamanya, yaitu Negara yang mampu Melindungi dan Menyejahterakan Remaja, apalagi kalau bukan Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar!!!

Khilafah Islamiyah saat ini semakin dikenal oleh remaja dan memunculkan kebutuhan untuk ikut memperjuangkannya dimuka bumi.  Remaja-remaja #smartwithislam sangat yakin,  bahwa hal ini adalah suatu kewajiban yang memang harus diperjuangkan sebagai konsekuensi menjadi seorang muslim. Nah, dibuletin kesayangan remaja #smartwithislam kali ini, akan disampaikan reportase Konferensi Remaja Islam yang menunjukkan bahwa ribuan remaja Indonesia merindukan dan berkomitmen akan memperjuangkan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyah, Allahu Akbar!!!

Konferensi Remaja Islam

Konferensi ini di selenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia yang terlaksana di 11 kota besar di Indonesia dalam waktu yang berbeda dengan menghadirkan peserta remaja (siswi SMP dan SMA, sebagian kecil para guru pendamping) yang jumlahnya menyentuh angka tujuh ribu. Konferensi Remaja Islam diselenggarakan pada:

·        Tanggal 2 Desember 2012, di kota Medan, Palembang, Banjarmasin dan Makasar.
·        Tanggal 9 Desember 2012, di kota Kendari dan Balik Papan.
·      Tanggal 16 Desember 2012, di kota Bandung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Surabaya, Mataram dan Jakarta (terdiri dari remaja Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Sukabumi).

Konferensi diselenggarakan dengan menghadirkan para remaja sebagai para pengisi acara, dimulai dari MC, pembaca alQur’an, Orasi, Testimoni, Pembaca Puisi dan Teatrikal serta Pembawa Nasyid dan Do’a. Semua pengisi acara merupakan remaja pejuang Syariah dan Khilafah yang berprestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik. Hal ini semakin memperkuat bahwa dengan mengkaji Islam tidak menghalangi remaja untuk berprestasi. Konferensi ini diselenggarakan dengan penyampaian orasi dengan judul:

1.   Remaja dan Budaya, “Derita Remaja dalam Budaya yang Merusak”. Orasi ini disampaikan dengan berbahasa Inggris.
2.     Remaja dan Pendidikan, ”Derita Remaja dalam Pendidikan Sekuler dan Berorientasi Materi”
3.     Remaja dan Ekonomi, “Derita Remaja dalam Kemiskinan”
4.     Remaja dan  Politik, “Remaja dalam Jeratan Politik yang Menipu”
5.     Remaja dan Perubahan, “Be The Real Agent of Change”. Orasi ini disampaikan dalam bahasa Arab.
6.    Khilafah, Negara yang Melindungi dan Menyejahterakan Remaja dan Seruan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia untuk Remaja.
7.    Seruan Muslimah Hizbut Tahrir kepada Remaja, Kiprah Utama Remaja: Menghancurkan Gaya Hidup Liberal, Mewujudkan Kehidupan Islam ”

Kegiatan Konferensi ini membuat para remaja sangat bersemangat dan berulang kali melafadzkan Takbir dan yel-yel dengan penuh semangat, “Alfata yuriid, Khilafah Islamiyah” yang artinya Remaja ingin (rindu) Khilafah Islamiyah. Kegiatan konferensi juga menampilkan selingan berupa tayangan dengan 3 judul : Kapitalisme Merusak dan Menghancurkan Remaja; Khilafah, Negara yang Melindungi dan Menyejahterakan Remaja dan Kontribusi Remaja dalam Perjuangan Penegakan Syari’ah dan Khilafah.  Selain tiga tayangan ini, konferensi juga menampilkan Puisi dan Teatrikal yang berjudul “Menjadi Pembela Islam” dan Penyajian Nasyid yang berjudul “Jayalah Khilafah Islamiyah”.  

Peserta juga menyaksikan pernyataan langsung dari para remaja dalam bentuk testimoni terkait pengakuan dan pengalaman mereka, bahwa dengan menjadikan islam sebagai Way of Life membuat mereka Percaya Diri dan berprestasi.  Selain itu, Islam telah menjadikan mereka sebagai pribadi yang memiliki cara pandang yang khas dalam berperilaku, sehingga memiliki kepribadian Islamiyah yang mampu menarik perhatian sesama rekannya dan lingkungannya 

Acara konferensi juga disertai dengan sesi diskusi baik secara langsung di dalam ruangan konferensi maupun yang berasal dari sms baik peserta yang ada di dalam ruangan maupun yang berada di luar ruangan. Komentar dan dukungan pun datang dari dunia maya melalui twitter @smartwithislam dan Fanpage Facebook : smartwithislam. Konferensi diakhiri dengan pembacaan muhasabah dan do’a yang di sampaikan dengan menyentuh hati, membangun kesadaran dan membulatkan tekad untuk memperbaiki diri dan terlibat dalam perjuangan syari’ah dan Khilafah. Tetesan air mata pun jatuh dari mata para remaja yang hadir. Sungguh, Allah SWT sangat suka dengan airmata yang jatuh karena mengingat kekhilafan yang pernah dilakukan sebagai bentuk mohon ampun pada Al-Khaliq.

Hasil Konferensi Remaja Islam

Penyelenggaraan Konferensi Remaja Islam dapat membuktikan bahwa remaja #smartwithislam adalah generasi yang memiliki Kepribadian Islam, Memiliki Kecerdasan/Multi Kemampuan, Idraksillah billah (religious) dan juga mempunyai semangat tinggi untuk berbuat kebaikan termasuk memperjuangkan kebenaran, yaitu menjadi pejuang syari’ah-khilafah. Melalui konferensi ini, dapat di buktikan bahwa remaja memiliki kepedulian dengan permasalahan umat dan bangsa. Remaja ternyata mampu berbicara politik dan berkontribusi dalam perjuangan untuk menegakkan syari’ah-khilafah tanpa harus melakukan kekerasan fisik. Perjuangan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, yaitu mencerdaskan umat dengan pemikiran dan ideologi Islam, ideologi yang shahih karena berasal dari Allah SWT. 

Dari kuisioner yang disebarluaskan, diperoleh hasil bahwa remaja sangat merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam menghadiri konferensi.  Selain itu konferensi telah memotivasi mereka untuk bersungguh-sungguh menjadi Remaja yang mencintai Islam dan aktif memperjuangkannya tegaknya Islam bersama remaja lainnya dalam barisan yang dipimpin oleh Hizbut-Tahrir. 

Wahai Remaja, Allah SWT dan Rasulullah SAW memanggil kalian!

Engkaulah remaja, pemuda harapan umat. Engkaulah bagian dari umat terbaik yang Allah turunkan ke tengah manusia. Umat telah memanggilmu! Umat telah memanggilmu! Umat menaruh harapan besar di pundakmu. Dengan jumlah 70 juta di seluruh Indonesia, jumlahmu setara dengan 13 kali lipat penduduk negara Singapura. Bila disertai  semangat dan cita-cita ideologis, kekuatanmu adalah daya dorong yang sangat kuat bagi bangsa ini untuk bangkit mewujudkan perubahan hakiki Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepadamu untuk terus berbuat, terus bergerak menjadi remaja tangguh.

Remaja yang berkepribadian Islam dan layak menjadi contoh panutan (role model) pemuda dunia. Bersama-sama dengan  komponen kaum muslim lain, menyusun barisan rapi, menghadirkan solusi Islam, menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Sambutlah seruan Allah dan rasulNya untuk menyembuhkan umat dengan berjuang menegakkan kembali seluruh aturan Allah di muka bumi.

Daulah Khilafah Islamiyah akan segera tegak dengan izin Allah sebagaimana janji-Nya dalam surat An-Nur : 55, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh diantara kalian, bahwa Dia sungguh-sunggh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakukan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” 

Begitupun pada Sabda Rasulullaah SAW: “di tengah-tengah kalian terdapat masa kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu selama Dia berkehendak mengangkatnya, kemudian akan ada kekuasaan yang dzalim yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu selama Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu selama Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan muncul kembali kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Setelah itu beliau diam” (HR. Ahmad).

Wahai remaja #smartwithsilam, apakah kalian masih ragu dengan janji Allah dan Rasul-Nya? Apakah kalian meragukan janji Al-Khaliq yang telah menciptakan kita dengan segala kesempurnaan dan telah menyediakan surga bagi yang bertaqwa pada-Nya? Memperjuangkan Islam adalah salah satu bukti keimanan kita kepada-Nya. Menjadi remaja pejuang Islam adalah pilihan, dan itu adalah pilihan terbaik. Menjadi pejuang Islam berarti kita berinvestasi akhirat yang insyaAllah berakhir surga dan tiada tandingannya dari keindahan dunia fana saat ini. Mari bergabung dengan puluhan ribu remaja dari berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk tegaknya syariah dan khilafah dimuka bumi ini. Tegaknya Khilafah sudah di depan mata….!!!!!

Alfata yuriid, Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar!!!

Perkosaan Merajalela, Bukti Kerusakan Sistem!!


Sungguh miris nasib Risa. Setelah sembilan hari koma di Ruang Intensif Care Unit (ICU) RS Persahabatan, gadis cilik siswi kelas V SD yang diduga korban pemerkosaan itu meninggal dunia Minggu (6/1/13). Diagnosis tim medis menyebut, korban  mengalami peradangan otak dan infeksi akut pada (maaf) kelaminnya.

Tangis keluarga pun pecah. Meninggalnya Risa (11), adik tercinta, menjadi pukulan teramat getir bagi kedua kakaknya. Terlebih kedua orangtua Risa, tak bisa lagi melukiskan kepiluan, menahan kepedihan yang menusuk jantungnya.
 
Ya, siapa yang tak perih kehilangan anggota keluarga tercinta dengan cara mengenaskan. Seorang gadis kecil yang sedang mekar dan masih panjang jalan untuk menggapai cita-cita  penuh keceriaan, terenggut kehormatannya oleh seorang pendosa.

Ironi Mengerikan 

Nasib Risa memang sangat tragis, karena menemui ajal di usianya sangat belia di tangan penjahat kelamin. Ia bukan korban pertama di antara ratusan ribu korban kejahatan seksual yang terus berjatuhan. Ya, tak hanya perempuan dewasa, anak-anak dan bahkan balita, kini begitu mudah menjadi objek kejahatan seksual. Pemerkosa berkeliaran di sekitar kita, siap memangsa siapa saja yang dikehendakinya. 

Lebih ironis, pelaku terkadang bukan orang asing bagi korban. Seperti kerabat dekat, bahkan saudara sedarah.  Ayah menggauli anak kandung, anak memperkosa ibu yang melahirkannya, kakak memperkosa adik, kakek mencabuli cucunya, paman menggagahi keponakannya, atau guru memerawani muridnya. Begitulah berita miris yang tak pernah sepi menghiasi media massa.
Duh,  sudah sedemikian rendahnyakah nafsu kebinatangan menyergap para lelaki yang tega merusak kehormatan kaum perempuan? Sudah sebegitu bejatnyakah moral makhluk berakal dan bermartabat bernama manusia? 

Dampak Traumatis 

Pemerkosaan bukan kejahatan ringan, melainkan kriminal berat. Kalau harta yang dicuri, masih bisa dicari lagi. Sedangkan kehormatan perempuan, sekali terenggut, seumur hidup menanggung derita. Ya, korban pemerkosaan akan mengalami goncangan jiwa dan trauma berat tak berkesudahan. Terlebih jika korban terpaksa menyimpan benih dari pria asing yang tidak dicintainya. 

Perasaan malu, cemas dan ketakutan luar biasa kerap membuat korban menyimpan peristiwa buruk itu sendirian. Bahkan, terpaksa menyimpan kisah pilu itu seumur hidupnya. Tentu ini menjadi tekanan mental luar biasa yang tak bisa begitu saja dipulihkan. Ia menjadi pribadi murung, putus asa dan tak lagi memandang cerah masa depan. 

Di sisi lain, karena tidak dilaporkan, para pemerkosa itu pun akan terus mengulangi perbuatannya. Tak sedikit korban yang diperkosa berulang kali. Atau pemerkosa mencari korban-korban lain dengan leluasa karena tak pernah dihukum. Sungguh mengerikan! 

Faktor Pemicu

Mengapa pemerkosaan begitu mudah terjadi di negeri mayoritas muslim ini? Bahkan, korbannya juga para muslimah yang sudah berusaha menjaga diri dengan menutup aurat?  Pemicu pemerkosaan antara lain: 
 
Pertama, makin jauhnya individu masyarakat dari nilai-nilai agama sehingga tidak takut kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Seorang lelaki yang mencuri kehormatan perempuan, berarti bejat moral. Tidak takut azab Allah SWT. Sebaliknya, seorang perempuan yang tampil merangsang –hingga kerap menjadi korban-- dengan membuka aurat, berperilaku menggoda atau sengaja memancing birahi lawan jenis, juga bukan profil individu yang takut kepada Allah SWT. 

Kedua, diumbarnya rangsangan-rangsangan seksual di ranah publik yang kian vulgar dan liar. Iklan, film, musik, bacaan dan media massa semakin kental dengan muatan seksualitas tanpa sensor. Semua tahu, hal itu membangkitkan nafsu. Tanyalah pada para pelaku pemerkosaan, mereka umumnya melampiaskan nafsu setelah menonton konten porno. Baik VCD/DVD, rekaman video mesum, bacaan porno, blue film atau ilustrasi dan gambar-gambar porno yang berserakan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik (internet). Siapa yang bertanggung jawab? Negara dengan kewenangannya, seharusnya melarang peredaran konten porno tersebut di ranah publik. Namun, tentu saja negara yang menerapkan sistem sekuler, yakni sistem demokrasi dengan hak asasi manusianya, tak bisa melakukan itu. 

Ketiga, yakni diterapkannya sistem demokrasi-sekuler, dimana hak asasi manusia (HAM) ibarat Tuhannya. Dengan dalih HAM, siapapun bebas berbuat dan bertingkah laku. Termasuk, bisnis porno pun tumbuh subur dan tidak boleh dilarang karena bisa dianggap melanggar HAM.

Keempat, makin bebasnya interaksi laki-laki dan perempuan. Saat ini, perempuan semakin biasa beraktivitas di ranah publik dan berinteraksi tanpa batas dengan laki-laki. Sengaja atau tidak, kondisi ini membuka peluang bagi terjadinya rangsangan-rangsangan seksual dengan begitu mudah. Peluang terjadinya pemerkosaan pun semakin terbuka dengan merebaknya pacaran, teman tapi mesra, hubungan tanpa status dan perselingkuhan. Bukankah tak sedikit korban diperkosa pacarnya sendiri?

Kelima, tidak adanya hukuman tegas yang membuat jera pemerkosa.  Dalam hukum yang berlaku saat ini, pemerkosaan tak dianggap kriminalitas berat. KUHP pasal 285 tentang Pemerkosaan hanya mengancam pemerkosa dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara. Padahal faktanya tak sedikit yang hanya dikurung beberapa bulan atau tahun, setelah itu bebas berkeliaran dan memperkosa lagi. Naúdzubillahi mindzalik!

Kapitalis Gagal Menjamin Keamanan

Maraknya pemerkosaan membuktikan bahwa negara gagal melindungi kehormatan kaum perempuan. Bukti bahwa hukum buatan manusia yang diterapkan saat ini, mandul dalam menjamin keamanan rakyatnya, khususnya kaum hawa. Para penegak hukum seperti polisi, jaksa dan hakim tidak menjalankan tugasnya dengan baik, disamping sistem perundangan yang lemah dan pasal-pasal yang mudah diselewengkan oleh para penegak hukum dan terdakwa. Pimpinan bangsa tidak menjadikan penegakan hukum dan keamanan warganya sebagai program wajib dan utama.

Kondisi ini tak hanya terjadi di Indonesia, juga di berbagai belahan dunia yang notabene sama-sama menerapkan sistem sekuler-kapitalis. Di India misalnya, saat ini juga sedang disidangkan kasus pemerkosaan dan penganiayaan brutal yang menimpa seorang mahasiswi hingga menemui ajalnya. Kasus ini memicu kemarahan warga di sana dan dunia internasional.

Ini membuktikan bahwa sistem sekuler-kapitalisme yang diterapkan di hampir seluruh dunia global saat ini telah gagal menjamin keamanan, kehormatan dan kemuliaan perempuan. Sungguh mengerikan, di mana-mana perempuan terancam menjadi objek kejahatan seksual oleh para penjahat kelamin tak berperikemanusiaan. Itulah sebabnya, saatnya mengganti sistem sekuler-kapitalis ini dengan sistem Islam buatan Sang Pencipta, Allah SWT.

Sistem Islam Menjaga Kehormatan Perempuan

Islam mendudukkan perempuan di posisi mulia. Dibuatlah mekanisme untuk melindungi kehormatan mereka, melalui penerapan berbagai sistem kehidupan yang saling terintegrasi dan komprehensif. Bukan sekadar hukum sosial, juga sistem ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.

Jika sistem ekonomi Islam diterapkan, perempuan akan terjamin kesejahteraannya sehingga tak perlu berkeliaran di ranah publik demi mencari sesuap nasi. Hal ini mencegahnya dari tindak kejahatan.

Jika sistem pergaulan Islam diterapkan, akan terjaga interaksi dengan lawan jenis bukan mahromnya sehingga peluang dilecehkan juga minim. Apalagi jika ia taat pada syariat dengan selalu menutup aurat dan menjaga pandangannya dari syahwat.

Jika sistem hukum Islam diterapkan, pelaku pelecehan dan kejahatan seksual akan dihukum berat dan dibuat jera. Juga, tercegah masyarakat lain untuk berbuat hal yang sama. Semisal bagi pemerkosa, jika melakukannya tanpa mengancam dengan menggunakan senjata, maka dihukumi layaknya pelaku zina. Jika pelaku sudah menikah dirajam dan jika belum menikah dicambuk 100 kali serta diasingkan selama satu tahun. Sedangkan pemerkosaan dengan menggunakan senjata, dihukumi sebagaimana perampok. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33).

Dari ayat di atas, ada empat pilihan hukuman untuk perampok: dibunuh, disalib, dipotong kaki dan tangannya dengan bersilang, diasingkan atau dibuang (penjara). Pengadilan boleh memilih salah satu di antara empat pilihan hukuman di atas, yang dianggap paling sesuai untuk pelaku dan bisa membuat efek jera bagi masyarakat, sehingga bisa terwujud keamanan dan ketenteraman di masyarakat.

Hukum Islam yang tegas seperti inilah yang akan memberi jaminan keamanan. Buktinya, di negara yang masih menerapkan hukum ini meski tidak komprehensif, angka pemerkosaan relatif rendah. Menurut Data Interpol, angka perkosaan di AS 32,05, Jepang 1,78, dan Saudi 0,14 per 100.000 penduduk.

Jelaslah bahwa hukum buatan Allah SWT yang terbaik daripada hukum jahiliyyah buatan manusia. Benarlah firman-Nya: ¨Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al Maa-idah:50]

Untuk itu wahai perempuan, mari kita tuntut hak berupa jaminan atas keamanan, kemuliaan dan kehormatan kita dengan berjuang bersama-sama demi tegaknya sistem Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Hanya sistem inilah yang akan melindungi harkat dan martabat kaum perempuan. Wallahuálam.(*) | 

Buletin CWS edisi 16 | Januari 2013

Friday, January 18, 2013

Masjid Datuk Badiuzzaman : Tempat Pengaturan Strategi dalam Perang Sunggal

Jika kita menelusuri masjid bersejarah di kota Medan maka kita tidak bisa terlepas dari sejarah perjuangan kesultanan Deli di Medan. Kesultanan Deli sebagai penguasa ketika itu berperan banyak dalam pembangunan masjid di Medan. Namun sejarah Keseltanan Deli yang dianggap sering bekerjasama dengan Belanda dan Tjong A Fie seorang etnis tionghoa penguasaha dimasanya menjadikan pembangunan masjid – masjid bersejarah di kota Medan tidak terlepas dari bantuan Belanda dan Tjong A Fie. Akan tetapi hal ini tidak bagi Masjid Datuk Badiuzzaman yang dibangun 1985 yang sekarang terletak disamping PDAM (yang dahulu Istana Kedatukan Sunggal) Jl.PDAM suggal No.1 Medan.
  
Masjid Datuk Badiuzzaman sesuai namanya, Masjid ini dibangun oleh Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti lahir di Sunggal pada tahun 1845 ; memiliki area seluas 19x25 meter dengan halaman seluas +  1ha ini memang tidak begitu megah kesannya, namun pembangunan masjid ini meninggalkan pesan perjuangan yang sangat kuat bagi umat Islam di Medan sekarang. Datok Amansyah Surbakti salah satu keturunan ke – 4  Datuk Badiuzzaman saat ditemui Redaksi medan-syariah.blogspot.com memaparkan bahwa, kalau mesjid ini bisa dikatakan sebagai basis perjuangan malawan Belanda di Sunggal kala itu yang kini kita kenal dengan Perang Sunggal yang terjadi sejak tahun 1970-189.

Sekilas Sejarah kerajaan Sunggal dipimpin oleh Datuk Badiuzzaman

Datuk Badiuzzaman Ia merupakan keturunan ke-7 dari Sesser Surbakti yang asal-usulnya adalah dari Telun Kulu, Tanah Karo. Keturunan Sesser Surbaktilah yang mengawali perkembangan Islam di Sunggal. Sesser Surbakti masuk Islam pada abad k 14 di Labuhan. Anaknya Si Gajah mempunyai putera yang  bernama Adir Surbakti. Mereka bertempat tinggal di daerah Pancurbatu. Selanjutnya putera Adir Surbakti yang bernama Datuk Hitam Surbakti menjadi Raja Sunggal pada 1632 dan seorang anak perempuan mereka yang bernama Nang Baluan kawin dengan Gocah Pahlawan, yang merupakan asal-usul keturunan raja-raja Deli dan raja-raja Serdang. Datuk Hitam Surbakti mempunyai dua orang anak yang laki-laki bernama Datuk Undan Surbakti dan yang perempuan bernama Dayan Sermaidi yang kawin dengan Panglima Mangendar Alam, salah seorang keturunan Sultan Deli. Dari sinilah hubungan awal kekuasaan Deli diperluas ke daerah Sunggal. Namun hal ini tidak serta merta menjadikan hubungan mereka sellu harmonis. Perang sunggallah yang menjadi momentum akhir dari kekuasaan/pengaruh Deli di sunggal. Hampir diketahui oleh banyak pihak bahwa ketika itu kesultanan deli selalu bekerjasama dengan Belanda dalam pengelolaan tanah rakyat. Inilah Pemicu terjadinya 'Perang Sunggal' ini. Pada 1870 Sultan Mahmud Perkasa Alam (Sultan Deli) memberikan tanah yang subur di wilayah Sunggal untuk dijadikan konsensi perkebunan perusahaan Belanda yang bernama De Rotterdam dan Deli Maschapij. Pemberian tanah ini tanpa melalui perundingan dengan penguasa sunggal serta rakyat wilayah Sunggal sehingga timbullah perlawanan hingga 25 tahun lamanya dan ini termasuk perang besar di Hindia Belanda kala itu.

Kala Masjid Menjadi Tempat Pengatur Strategi 

Setelah masjid dibangun, perang Sunggal yang sudah berjalan sekitar 10 tahun lebih lamanya kemudian menjadikan Masjid ini dijadikan sebagai tempat pengatur strategi perang melawan Belanda. Pola gerakan grilia terus dilakukan karena daerah sekitar masjid memang adalah daerah pegunungan dan hutan kala itu bentanganntya hingga ke Karo

Kala itu, atas konpirasi Belanda dengan orang dalam Datuk Badiuzzaman belanda berhasil menjadikan Datuk  tahanan Kota. Dan ia di minta untuk memutuskan hubungan koordinasi antara Datuk Badiuzzaman Surbakti dengan komandan pasukan dan pejuang di daerah Timbang Langkat dan daerah hutan pegunungan. Asisten Residen Siak ,Locker de Bruijne menekannya untuk menyerahkan gerilyawan pejuang rakyat Sunggal kepada Belanda namun walaupun strategi belanda itu tidaklah berhasil. Datuk Badiuzzaman tetap tidak mau menyerahkan mereka kepada Belanda. (Assisten Resident Siak Locker de Bruijne kepada Residen Riau 26 Mei 1872).

Karena berbagai hal di alami oleh pasukan Kedatukan Sunggal kala itu, Datuk Badiuzzaman Surbakti mengubah pola perjuangan dari penyerangan secara langsung kepada serdadu Belanda menjadi penyerangan dengan cara membakar bangsal-bangsal perkebunan Belanda dan maskapai perkebunan asing, dengan maksud menimbulkan rasa tidak aman bagi tuan kebun dan keluarganya, menghentikan kegiatan produksi dan ekspansi areal. Pimpinan penyerangan dan pembakaran bangsal-bangsal tersebut diserahkan kepada adik kandungnya Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti atasintruksinya.

Di Deli sendiri selain pembakaran bangsal-bangsal tembakau. Datuk Badiuzzaman Surbakti juga berhasil menggerakkan rakyatnya, sehingga petani tidak bersedia menjual beras kepada Belanda akibatnya Belanda terpaksa mengimpor beras dari Ranggoon. Pada tahun 1886 timbullah gerakan pengacauan di perkebunan (onderneming). Gerakan ini semakin meluas dan secara serentak di perkebunan milik Belanda dan maskapai perkebunan asing pembakaran bangsal dengan ranjau ini mengakibatkan tidak satupun bangsal dapat diselamatkan. (W.H.Schadee:Greschiednis van Sumatra Ooskust,Deel II).

Untuk memecah hubungan orang Karo dan Melayu Sunggal, Pemerintah Belanda menyokong memasukkan Zending Kristen dari Netherland ke Tanah Karo dan Deli Hulu, kemudian menciptakan pula kontelir khusus untuk urusan Batak dan membendung pengaruh Islam. Politik pecah belah ini tidak berhasil malah makin mengeratkan hubungan antara orang Melayu, Karo dan Batak yang bertekad untuk membebaskan daerahnya dari penjajahan.(T.Luckman Sinar :Perang Sunggal Percetakan Perwira II tahun 1996).

Perjuangan yang anti Klimaks 

Akhirnya, atas penghianatan orang dalam itulah Datuk Badiuzzaman Surbakti 2/3 ditahan beserta adinya. Dan di bawa ke pusat Hindia Belanda kala itu dijanjikan untuk perdamaian malah akhirnya ia ditahan seumur Hidup. Hidupnya sampai akhir khayatnya telah menggagas, memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata bersama rakyat Sunggal, suku Karo, Gayo, Aceh dan suku lainnya dalam mempertahankan wilayah atau tanah Sunggal dari penjajahan Belanda berbasis di Masjid, ia juga memiliki konsistensi sikap dan perjuangan serta jiwa dan semangat tinggi, ini dibuktikannya bersama pejuang Perang Sunggal yang lain mereka tidak pernah menyerah kepada Belanda tetapi ditangkap dan dibuang sampai akhir hayatnya. (Dani Umbara | Redaksi Medan-Syariah.blogspot.com)

Thursday, January 17, 2013

Joserizal Ingatkan Pemerintah Jangan Jadi Penjahat Kemanusiaan

 JAKARTA  - Aktivis kemanusiaan Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT  berkali-kali mengingatkan pemerintah agar jangan membiarkan pelanggaran HAM yang dilakukan Densus 88. Jangan sampai kelak pemerintah Indonesia menanggung predikat sebagai penjahat kemanusiaan.
 

Joserizal menuntut agar Densus 88 dievaluasi lantaran menurutnya, Densus telah menjalankan Program War on Terror (WOT) Amerika Serikat. Padahal program war on terrorAS itu merupakan hasil pengkondisian setelah peristiwa 11 September 2001

“Program War on Terror (WOT) AS ini adalah hasil conditioning yang dilakukan melalui peristiwa 9/11,” kata Joserizal kepada voa-islam.com, Selasa (15/1/2013).

Oleh sebab itu, pemerintah harus segera melakukan evaluasi terhadap Densus 88 agar jangan sampai pemerintah Indonesia kelak dituduh sebagai penjahat kemanusiaan.

“Jadi pemerintah Indonesia sudah seharusnya melakukan evaluasi terhadap program War on Terror Densus 88 ini. Jangan sampai terjadi suatu saat presiden Bush dan kawan-kawannya ditetapkan sebagai pelaku penjahat kemanusiaan lalu pejabat-pejabat pemerintahan Indonesia juga harus menanggung predikat sebagai penjahat kemanusiaan,” terangnya.

Ia pun mengingatkan agar pemerintah yang berkuasa saat ini melihat jatuhnya penguasa dunia yang dikenal sebagai penjahat kemanusiaan.

“Ingatlah dunia ini berputar, politik bisa berubah karena jatuhnya penguasa-penguasa dunia seperti Hitler, Saddam, Husni Mubarak, Polpot, R.Karadzick lantaran mereka menjadi penjahat perang/kemanusiaan,” ungkapnya.

Sebab, kata Joserizal mudah bagi Allah untuk meruntuhkan AS dan sekutu-sekutunya. “Paling mudah dengan bencana alam. Begitu hal ini terjadi, keadaan akan berbalik. pemburu akan berubah menjadi buruan,” tutupnya. [Ahmed Widad/www.globalmuslim.web.id]

Wednesday, January 16, 2013

Jejak Syariah & Khilafah di Sumatera

Gema syariah dan khilafah di Nusantara kian nyaring terdengar. Bahkan menurut sebuah harian Ibukota, diberitakan bahwa beberapa waktu lalu digelar debat terbuka di kampus Unpad Bandung bertemakan penerapan syariat Islam dengan pembicara dari Tokoh Islam, M. Ismail Yusanto dan fungsionaris Parpol Nasrani, Pdt Ruyandi Hutasoit. Debat terbuka tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa syariat Islam senantiasa melindungi kaum non Islam dan tak bertentangan dengan HAM dan konstitusi nasional. 

Sayangnya, tudingan-tudingan negatif terhadap syariah dan khilafah juga masih sering terdengar yang justru datang dari segelintir ummat Islam dari kalangan muslim liberal. ‘Syariat Islam itu kuno’; ‘syariat Islam hanya akan memarginalkan wanita dan minoritas non muslim’; ‘khilafah Islam adalah utopis/mimpi’, ‘khilafah adalah romantisme sejarah’, dan beragam stigma buruk lainnya sering muncul di media massa sebagai upaya pencitraburukan syariah dan khilafah. Bukti-bukti historis berikut ini terhadap penerapan syariah dan khilafah di Nusantara khususnya wilayah Sumatera semoga dapat menjawab tuduhan-tuduhan miring tersebut.
Khilafah & Institusi Politik Sumatera  

Ibarat kacang lupa kepada kulitnya, demikian petuah bijak yang mengajarkan kepada kita agar tak lupa kepada riwayat atau sejarah kehidupan manusia. Memang, sepantasnya ummat manusia tak boleh lupa dengan sejarah hidupnya atau garis keturunannya. Seorang anak tak boleh lupa siapa ibu dan ayahnya. Sejarah hidup atau bukti-bukti historis akan berfungsi untuk memberikan gambaran hitam dan putih dari peristiwa masa lalu. Potret buram kehidupan masa lalu sepantasnya untuk dieliminasi dan potret indah sejarah sewajarnya untuk diwujudkan kembali di era kekinian. Relasi atau hubungan historis antara kekuasaan Islam (khilafah Islam) dengan para penguasa atau sultan di Indonesia khususnya wilayah Sumatera terjalin erat dan harmonis. Beberapa lembar fakta sejarah telah mencatat dengan jelas dan otentik terhadap jejak penerapan syariah di Sumatera dan jalinan kerjasama para sultan dengan institusi politik internasional Islam (khilafah Islam). Di bidang dakwah, pada tahun 100 H (718 M). Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada khalifah Umar bin abdul Aziz dari Khalifah Bani Umayah meminta dikirimkan da’i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian beliau yang semula Hindu masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun di kenal dengan nama sribuza Islam. (Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam, 2005, hal 6). Menurut Musyrifah Sunanto dalam pustaka yang sama di halaman 138, tercatat bahwa di bidang hukum, Sultan Iskandar Muda dari Aceh menerapkan hukum rajam terhadap puteranya sendiri yang bernama Meurah Pupok yang berzina dengan isteri soerang perwira. Beliau berkata: “mati anak ada makamnya, mati hukum kemana hendak dicari”. Kerajaan Aceh Darussalam mempunyai UUD Islam bernama kitab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda memerintahkan pelaksanaan kewajiban shalat lima waktu dan pelaksanaan ibadah puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan. Sedangkan di bidang ekonomi, Sultan Iskandar Muda mengeluarkan kebijakan riba diharamkan. Selain itu, di Kesultanan Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az Zahir (1297/1326) telah mengeluarkan mata uang emas yang ditilik dari bentuk dan isinya menunjukkan hasil teknologi dan kebudayaan yang tinggi. Para sejarahwan juga telah mencatat tentang jalinan kerja sama antara insitusi politik di wilayah Sumatera dengan penguasa muslim internasional. Kerjasama tersebut terlihat dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajarkan cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani. Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. (Lihat : Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Kesultanan, hal 52-53). Keterkaitan Nusantara atau wilayah Sumatera sebagai bagian dari Khilafah kian nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra Pasai Darussalam oleh utusan Syarif Mekkah. Syarif Mekkah saat itu berwenang sebagai wali (setingkat gubernur) di dalam sistem kekhilafahan Islam. 

Tak Sekedar Romantisme Sejarah  

Jejak penerapan syariah dan jalinan kerjasama institusi politik di Sumatera dengan khilafah Islam diatas sepantasnya tak hanya sekedar menjadi romantisme sejarah atau nostalgia indah. Kedamaian dan kesejahteraan yang pernah terwujud di lintasan sejarah penerapan syariat Islam sewajarnya untuk dapat diwujudkan kembali dalam realitas kehidupan masa kini. Namun, semangat untuk meujudkan kembali kehidupan Islam dengan metode (thariqah) khilafah Islam sebaiknya disertai dengan pemahaman dan edukasi syariah yang utuh dan komprehensif. Untuk itu dibutuhkan sebuah formula atau konsep yang jelas dan bebas dari nuansa kekerasan untuk memberdayakan ummat menuju cita-cita luhur tersebut. Konsep yang jelas dan tegas telah termaktub di dalam Al-Qur’an dan as Sunnah yang menggambarkan bagaimana langkah-langkah yang ditempuh oleh insan utama Rasulullah SAW untuk melakukan perubahan atau transformasi ummat. Di dalam beberapa kitab sirah dikabarkan bahwa Rasul saw melakukan proses perubahan dengan kaderisasi, terjun ke masyarakat dan perubahan sistem dengan penerapan hukum Islam. Tahapan kaderisasi (tatsqif wa takwin) yang dilakukan oleh rasul saw menghasilkan kader-kader yang militan dan senantiasa menjadikan dakwah sebagai poros hidup mereka. Marhalah (tahapan) selanjutnya dengan terjun ke kancah kehidupan ditempuh rasul saw untuk melakukan pergolakan pemikiran (sira’ul fikr) hingga masyarakat menerima risalah Islam sebagai aturan kehidupan mereka. Akhirnya, proses revolusi pemikiran tersebut berhasil membentuk sebuah masyarakat ideal di Madinah yang diatur oleh nilai-nilai Islam dibawah kepemimpinan rasulullah saw. Walhasil, jejak penerapan syariah dan khilafah di Sumatera semakin membuktikan bahwa Islam sebagai ideologi yang paripurna telah pernah diterapkan dalam kehidupan nyata bukan konsepsi yang utopia (mimpi) atau sekedar doktrin teologis. Bahkan Penguasa jagat raya, Allah SWT juga telah berjanji akan kembali memberikan kekuasaan tersebut: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (TQS. An Nuur: 55) Wallahu’alam bi ash shawab.( Asmaul Husna; Ketua Umum Muslimah Peduli Ummat Sumut.) (wns) [WASPADA Online; 01 Jun 07]

Ustadz Rokhmat S. Labib: Insya Allah, Khilafah Tak Lama Lagi!


Tahun 2012, selain masih diselubungi dengan aneka ragam persoalan yang membelit negeri ini dan berbagai negeri Muslim di belahan Dunia Islam, sesungguhnya menyimpan harapan dan optimisme bagi kaum Muslim. Optimisme itu ditandai antara lain makin merosotkan Kapitalisme-liberalisme, dan makin menguatnya kesadaran kaum Muslim untuk diatur dengan ideologi dan sistem Islam. Bahkan wacana syariah dan Khilafah makin luas diterima oleh banyak kalangan Muslim.

Pertanyaannya: Kapan Khilafah tegak? Apa pula peran yang harus dimainkan oleh umat demi mempercepat berdirinya Khilafah? Bagaimana pula peran strategis Hizbut Tahrir, termasuk di Indonesia, sebagai satu-satunya gerakan yang paling menonjol dalam mengusung penting dan wajibnya umat ini menegakkan syariah dan Khilafah? Itulah beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Ustadz Rakhmat S. Labib, Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia dalam wawancara dengan Redaksi kali ini. Berikut petikannya.

Hal-hal strategis apa yang seharusnya diwujudkan di tengah-tengah umat?

Pertama: adanya pemahaman yang benar dan sempurna tentang Islam. Benar dalam pengertian tidak tercampur dengan berbagai ide selain Islam. Sempurna artinya memahami totalitas Islam,syumûliyyah al-Islâm. Islam harus dipahami sebagai dîn yang mengatur seluruh aspek kehidupan yang wajib diterapkan, bukan agama yang hanya mengatur aspek ritual dan moral seperti agama-agama lain.

Ketika pemahaman ini dimiliki, umat akan menolak penerapan semua hukum dan ide selain Islam. Umat juga akan menuntut ketika ada sebagian syariah yang ditinggalkan dan diabaikan.

Ini merupakan perkara strategis yang pertama kali harus diwujudkan di tengah umat sebelum lainnya. Ketika ini sudah dimiliki, akan mudah bagi umat untuk menentukan arah dan langkah perjuangan. Tidak mudah dibelokkan, dibajak, atau disibukkan oleh berbagai PR yang dibuat kaum kafir.

Selain itu?

Kedua: adanya sikap yang melepaskan segala keterikatan dengan Barat. Umat harus membuang jauh semua ideologi, pemikiran, hukum dan peradaban Barat. Sebab, semua itu adalah kufur, bertolak belakang dengan Islam. Semua ide itu menjadi biang penyebab umat ini sulit bangkit dan sebaliknya umat justru mudah didominasi, diintervensi dan dijajah Barat.

Umat juga harus menempatkan Barat yang kafir itu sebagai musuh, bukan sahabat apalagi tuan yang ditaati perintahnya. Sebab, mereka bukan hanya tidak ridha dengan Islam, namun telah melakukan berbagai upaya untuk memerangi Islam dan umatnya. Mereka pula yang menghancurkan Khilafah, mendirikan negara-negara bangsa di atas wilayahnya, dan menghalangi umat bersatu. Sebab, mereka tahu benar, jika umat bersatu, akan sulit dikalahkan.

Berarti persatuan umat menjadi perkara yang penting diwujudkan?

Ya, benar. Harus diwujudkan di tengah umat adalah kesadaran bahwa mereka adalah umat yang satu. Umat ini dipersatukan oleh akidah yang sama, hukum yang sama, dan negara yang satu. Ketika kesadaran ini ada di tengah-tengah umat, maka akan mudah umat ini bersatu kembali. Ketika ini terjadi, umat ini menjadi yang kuat dan besar. Negerinya juga membentang luas, dari Maroko hingga Merauke dengan kekayaan alam yang melimpah-ruah. Oleh karena itu, semua sekat yang menghalangi terwujudnya pesatuan umat harus dihilangkan.

Ada lagi hal strategis yang harus diwujudkan?

Ada. Ini justru yang paling penting dan mendesak, yakni tegaknya Khilafah. Ini merupakan perkara paling strategis yang wajib diwujudkan di tengah-tengah umat. Dengan tegaknya Khilafah, Islam bisa diberlakukan secara total, dan umat Islam sebagai umat yang satu benar-benar dapat diwujudkan. Dalam Khilafah umat berada dalam naungan satu pemerintahan dan kepemimpinan. Dengan Khilafah pula, penjajahan Barat atas negeri-negeri Islam dapat dienyahkan. Israel yang berpuluh tahun merampas tanah Palestina dapat dihapuskan. Juga dengan Khilafah, umat dapat terpelihara akidah dan pemikirannya, terlindungi darah dan kehormatannya, dan terjaga harta dan negeri-negerinya.

Melihat kondisi umat selama 2012, sejauh mana realisasi hal-hal strategis itu di tengah umat?

Alhamdulillah, hal-hal strategis itu terus mengalami peningkatan. Pemahaman umat yang benar dan sempurna tentang Islam terus membaik. Islam tidak lagi dipandang sebagai agama ritual.

Umat juga sudah muak terhadap sosialisme, sekularisme dan kapitalisme. Umat juga sudah menolak pluralisme dan liberalisme. Mereka juga sudah tidak terpesona dengan demokrasi. Bahkan banyak yang pesimis dan tak lagi percaya. Sebaliknya, keinginan terhadap penerapan hukum Islam semakin luas.
Kesadaran sebagai umat yang satu juga terus membaik. Ketika Musim Rohingya dibantai rezim Budha Myanmar, umat Islam di berbagai negara segera bereaksi. Demikian pula ketika Gaza diserang Israel, rakyat Suriah dibunuhi oleh rezim Basyar Asad, dan lain-lain.

Khilafah memang belum tegak, namun insya Allah tidak akan lama lagi. Jatuhnya rezim-rezim tiran dan diktator di Timur Tengah oleh perlawanan rakyatnya sendiri adalah di antara tanda yang sangat jelas. Pasca revolusi itu, dakwah menjadi lebih leluasa. Kebobrokan para penguasa yang menjadi antek dan boneka Barat kian terbuka. Umat telah kehilangan rasa takut terhadap penguasanya sekalipun para penguasa itu menggunakan tindakan represif, kejam dan bengis. Inilah yang kini terjadi di Suriah. Tindakan kejam dan sadis yang dilakukan Basyar Asad sama sekali tidak mengakibatkan rakyatnya takut dan berhenti. Semua itu justru menjadi minyak yang memperbesar bara perlawanan terhadapnya.

Apa peran strategis Hizbut Tahrir di tengah umat?

Sejak awal didirikan, Hizbut Tahrir dideklarasikan sebagai partai politik Islam. Maka dari itu, peran Hizb tidak akan keluar sebagai partai politik. Partai yang benar-benar peduli terhadap pengaturan dan pengelolaan urusan umat.

Telah maklum, umat ini telah lama miskin, terpuruk dan menderita. Mereka ingin terbebas dari semua keadaan itu. Mereka juga sudah memberikan kepercayaan kepada sejumlah tokoh dan partai yang menjanjikan perubahan. Namun, semuanya selalu berakhir dengan kekecewaan. Sebab, perubahan yang dijanjikan tak kunjung menjadi kenyataan. Sebaliknya, keadaannya bertambah parah.

Di sinilah Hizb datang untuk memberikan jawaban. Hizb menjelaskan kepada umat tentang akar penyebab realitas buruk itu beserta solusinya. Bahwa semua itu terjadi karena penerapan sistem bobrok, yakni sistem yang dihasilkan dari hawa nafsu manusia, seperti kapitalisme, liberalisme dan demokrasi. Solusi atas semua persoalan itu adalah Islam dengan syariah dan Khilafahnya. Inilah satu-satunya sistem yang absah secara syar’i dan mendatangkan rahmat.

Bagaimana Hizb melaksanakan peran strategis itu?

Untuk melakukan peran itu, diperlukan adanya partai politik kuat. Bukan hanya dalam aspek fikrah dan thariqah-nya, namun juga SDM yang menjadi pelaku dalam perjuangan tersebut. Oleh karena itu, Hizb terus-menerus melakukan pembinaan intensif kepada para para pejuang syariah dan Khilafah. Dalam dakwah kita, ini disebut sebagai al-tatsqîf, pembinaan.

Hizb pun terus menggencarkan dakwah di tengah umat agar ide-ide yang yang diperjuangkan menjadi opini umum. Hizb terus menyebarkan pemahaman Islam yang benar dan sempurna, mengarahkan sikap agar melepaskan keterkaitan dengan Barat, memberikan kesadaran tentang persatuan umat, dan menyiapkan umat untuk menyongsong tegaknya Khilafah. Bahkan mereka bersatu menuntut tegaknya Khilafah. Ini yang kita sebut sebagai at-tafâ’ul ma’a al-ummah,berinteraksi dengan umat.

Sebagaimana dicontohkan Nabi saw., Hizb juga melakukan thalab an-nushrah, mencari pertolongan dari kalangan ahl al-quwwah, orang-orang yang memiliki kekuatan riil di tengah umat. Merekalah yang akan mengambil kekuasaan untuk diproklamirkan tegaknya Khilafah.

Selama 2012 kemarin, apa aktivitas Hizb yang menonjol?

Secara aktivitas tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang mungkin berbeda adalah penekanan pada beberapa tema tertentu. Ada yang sifatnya tentatif karena kejadiannya mendadak dan harus segera mendapat respon. Akan tetapi, semua isu bermuara pada urgensi adanya Khilafah.

Ketika Rasulullah saw. dihina dalam film Innocence of Muslims kita segera mengadakan aksi di berbagai kota. Kita mengecam tindakan tersebut, pelakunya dan Amerika yang melindunginya, seraya menegaskan bahwa penghinaan itu terus berulang karena tiadanya Khilafah.

Ketika Muslim Rohingya dibantai dan Gaza diserbu, kita juga meresponnya. Kita mengecam semua tindakan itu beserta pelakunya, sekaligus mengingatkan bahwa tindakan brutal itu juga terjadi karena umat tidak memiliki junnah, perisai, yakni Khilafah.

Ada yang bersifat terencana dan lebih mendalam?

Ada. Tahun lalu kita banyak menyorot soal ekonomi, terutama tentang pengelolaan kekayaan alam yang carut marut. Kita mengkritisi adanya realitas yang paradoks, yakni melimpahnya kekayaan alam di negeri ini, namun sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan. Negaranya juga memiliki yang amat besar dan terus bertambah setiap tahun.

Kita berusaha menjelaskan kepada umat bahwa semua itu berpangkal pada penerapan sistem Kapitalisme-Liberalisme yang bobrok. Sistem inilah yang menyebabkan kekayaan alam jatuh ke tangan swasta asing.
Selain menunjukkan kebobrokannya, kita juga menyodorkan solusinya. Ini penting mengingat sesungguhnya sudah banyak yang melakukan krtik terhadapnya, namun tanpa solusi yang benar. Kita juga memberikan solusinya, Islam. Kita tunjukkan kepada umat, kekayaan berlimpah itu akan benar-benar dirasakan umat ketika dikelola dengan sistem Islam.

Ini kita ekspos dalam berbagai kegiatan publik seperti diskusi, seminar, tabligh akbar, dan lain-lain. Secara khusus kita beberkan dalam Konferensi Tokoh Umat yang kita selenggarakan di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia. Tema yang kita ambil adalah: Khilafah, Model Terbaik Negara yang menyejahterakan.
Tema yang kurang lebih sama juga kita angkat dalam Liqa’ Syawal Ulama yang diadakan lebih dari tiga puluh kota dan dihadiri oleh puluhan ribu ulama.

Capaian apa saja yang sudah bisa direalisasi?

Alhamdulillah, umat semakin paham terhadap totalitas Islam. Umat semakin percaya terhadap kehandalan sistem Islam. Penolakan mereka terhadap kapitalisme, liberalisme, dan lain-lain semakin kuat dan berargumen. Ini dibuktikan dengan komentar-komentar  mereka yang hadir dalam forum-forum yang kita adakan.

Khusus untuk para tokoh, terutama yang hadir dalam KTU, kita berharap tidak hanya berhenti pada para tokoh, namun juga menular kepada semua muhibbin mereka.

Apa agenda Hizb ke depan, khususnya di tahun 2013?

Aktivitas dakwah di tengah umat terus kita gencarkan. Berbagai isu-isu yang mencerdaskan umat juga akan kita bahas. Jika pada tahun 2012 kemarin kita banyak mengangkat isu ekonomi, maka pada tahun 2013 kita akan lebih banyak mengangkat isu-isu politik dan pemerintahan. Jika dalam sektor ekonomi, liberalisme menjadi biang penyebabnya, maka dalam sektor politik dan pemerintahan, sistem demokrasi adalah menjadi biangnya. Dengan demikian, pemahaman tentang bobroknya ideologi kufur buatan manusia makin sempurna.

Akankah mengadakan kegiatan seperti Konferensi Tokoh Umat seperti tahun lalu?

Ya, insya Allah. Namun, skalanya kita perluas, jumlahnya juga kita tambah. Jika dalam KTU hanya melibatkan tokoh umat yang jumlahnya tidak banyak, pada konferensi yang akan kita adakan tahun 2013 akan melibatkan seluruh umat. Konferensi yang akan kita adakan ini bernamaMuktamar Khilafah. Tema yang kita angkat adalah Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah.Kegiatan ini akan diselenggarakan di Jakarta dan kota besar lainnya, mulai dari Aceh hingga Papua.

Apa harapan Ustadz?

Kita berharap dukungan dan partispasi dari seluruh umat dalam kegiatan tersebut. Seluruh umat layak terlibat karena yang diperjuangkan, yakni Khilafah juga untuk seluruh umat; bukan untuk kelompok, golongan, atau bangsa tertentu.

Kita juga berharap muktamar ini dapat menggelorakan umat dalam perjuangan menegakkan Khilafah. Semoga ini merupakan konferensi Khilafah terakhir, atau bahkan tak perlu diadakan karena Khilafah tegak terlebih dulu. Namun, apa pun yang terjadi, kewajiban kita adalah berjuang untuk menegakkannya. Dengan perjuangan ituah kita patut berharap mendapat pahala, surga dan ridha-Nya. []