Live Streaming Muktamar Khilafah 2013 Jakarta

Saksikan Live Streaming Muktamar Khilafah 2 Juni 2013 Gelora Bung Karno, Jakarta

Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5

Semarak Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5/13. Dukungan kaum muslimin semakin besar terhadap tegaknya Khilafah

Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Stadion Teladan 26 Juni 2013 Menjadi saksi Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Jejak Syariah dan Khilafah di Sumatera

Gema syariah dan khilafah di Nusantara kian nyaring terdengar. Bahkan menurut sebuah harian Ibukota, diberitakan bahwa beberapa waktu lalu digelar debat terbuka di kampus Unpad Bandung bertemakan penerapan syariat Islam dengan pembicara dari Tokoh Islam, M. Ismail Yusanto dan fungsionaris Parpol Nasrani, Pdt Ruyandi Hutasoit.

Halqah Islam dan Peradaban

Pengamant Politik USU : Umat Islam harus pilih Ideologi Islam

Tuesday, February 4, 2014

Pemilu 2014 tak Memberi Harapan, Syariat Islam Satu-satunya Jalan





Medan,
Pemilu 2014 diyakini tidak berdampak signifikan bagi perbaikan nasib bangsa. Penegakan syariat Islam menjadi satu-satunya jalan mencapai kemaslahatan seluruh umat. Narasumber pada acara diskusi publik yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Medan di Mesjid Al Amin, Jalan Prof. HM. Yamin Medan, Ahad (2/2) menyampaikan itu. c
Dr. Sohibul Anshor Siregar, seorang pengamat politik mengatakan fakta dan realita selama ini bahwa pergantian rejim tidak berkorelasi (terkait) langsung dengan kesejahteraan rakyat.
“Saya termasuk orang yang pesimis,” ucap Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu mengawali diskusi yang dipandu Azhar, seorang trainer di Medan. Hadir bersamanya sebagai pembicara, Syafrizal Lubis selaku Ketua Asosiasi Pengusaha Kecil Industri (APKI) Sumatera Utara,  Sihabuddin yang mantan calon Bupati Deleserdang dari jalur independen dan Selamat Riyadi, aktifis HTI Medan.
Demokrasi yang sekarang ini sedang berlangsung, katanya, justru menciptakan birokrasi yang rumit dan sulit, anggota dewan dan penyelenggara pemerintah yang cenderung korup, serta penegakan hukum yang tebang pilih.
“Agar umat Islam yang notabene mayoriti ini mendapatkan kesejahteraan, maka penegakan syariat Islam harus dilakukan,” ajaknya.
Pembicara lain, Sihabuddin yang mengaku pernah aktif diberbagai partai politik, baik berbasis nasionalis maupun relijius pada kesempatan itu menyampaikan pengalamannya. Menurutnya, ada 2 hal menonjol yang dirasakannya, yakni penuh dengan fitnah dan kezoliman.
“Kalau kita berada di dalamnya, maka menyampaikan sebuah kebenaran adalah merupakan kerugian,” paparnya. Hal itu, tambahnya, sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam. “Untuk itu, makanya perlu dan sepantasnya kita dukung penegakan hukum Islam agar keadilan dan kesejahteraan dapat terwujud. 
Syafrizal Lubis,Ketua APKI Sumut mengamini. Pelaksanaan Pemilu selama ini tidak menghasilkan sesuatu yang baik bagi kesejahteraan rakyat secara merata. “Nol besar,” katanya.
Pengusaha kecil itu menambahkan, nepotisme telah menyebabkan pengusaha menderita sementara pada sisi lain ada pengusaha yang sangat diuntungkan. Selain itu, keberpihakan pemerintah kepada rakyat kecil termasuk pengusaha kecil nasional tidak pernah terealisasi.
“Kami berharap Hizbut Tahrir berperan. Ini saya lihat sebagai organisasi yang baik,” katanya.
Sementara Selamat Riyadi, akifis HTI Medan mengatakan demokrasi adalah sistem kufur yang harus dihindari oleh seluruh umat muslim. “Dalam Islam sudah jelas diatur tentang system pemerintahan yakni khilafah,” ucpapnya tegas.
Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi,katanya, telah memperingatkan bahwa manusia tidak boleh berhukum dengan hukum selain yang datangnya dari Allah SWT. “Ini sangat jelas dinyatakan dlam Al Quran,” ucapnya.
Selamat Riyadi juga memaparkan sejumlah kebobrokan sistem demokrasi yang diantaranya mengakomodir kepentingan kelompok-kelompok yang pro maksiat karena dalam system yang diusung barat itu, setiap warga Negara memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat yang diyakininya. Tidak peduli apakah pendapat itu bertentangan dengan hukum Islam atau tidak.

Sunday, January 26, 2014

TABLIGH AKBAR HTI MEDAN JOHOR: “REFLEKSI DAKWAH RASUL MENEGAKKAN KHILAFAH”

HTI Press.Medan – Kelahiran Rasulullah SAW yang sering diperingati umat Islam dengan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak hanya dijadikan momentum untuk mengenangnya saja. Akan tetapi seharus dijadikan sebagai perjuangan untuk meneruskan dakwah beliau dalam menegakkan Daulah Khilafah.

Kesempatan inilah yang digunakan oleh HTI Medan Johor dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggelar Tabligh Akbar di masjid Baiturrahmah yang bertempat di Jl. Karya Jaya Pangkalan Masyhur Medan Johor pada Minggu (26/01/14) mulai pukul 09.00-11.30 WIB.

Dengan mengangkat sebuah tema “Refleksi Dakwah Rasul Menegakkan Khilafah” menghadirkan dua pembicara yaitu Ust. Azwir Ibnu Aziz dan Ust. Thoriq Abu Azkar, S.Pdi. Dihadiri oleh para jamaah yang berasal dari kecamatan Medan Johor dan juga dari luar Medan Johor yang memadati masjid Baiturrahmah ini seraya menggemakan kalimat takbir.

Ust. Thoriq dalam penyampaiannya memaparkan bagaimana perjalanan Rasulullah SAW dalam mengemban dakwah untuk menegakkan negara Khilafah Islamiyah. Mengambil dari sirah rasul saat berdakwah dan menyampaikan metode yang di tempuh Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah.

"Tidak ada waktu untuk beristirahat dalam berdakwah mewujudkan khilafah" papar beliau.
Sementara Ust. Azwir Ibnu Aziz menjelaskan langkah yang harus di tempuh oleh umat untuk menerapkan syariat Islam.

"Tujuan utama kita adalah menerapkan syariat Islam dan kita butuh institusi untuk menerapkannya" ujarnya.

Maka melalui Tabligh Akbar ini pesan yang dapat kita ambil yaitu sebagai umat Rasulullah SAW sudah seharusnya kita menjalankan apa yang telah dibawanya dan menerapkan dalam sistem kehidupan. Tidak hanya dari sisi ibadah semata, akan tetapi juga dalam menerapkan syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah.[]Yogi




Foto: [kiri] Ust. Raha sebagai MC [kanan] Ust. Imam Mahfudz sedang melantunkan ayat-ayat Al qur'an

 Foto: Ust. Abu Ainan Sebagai Moderator sedang mimimpin acara





Foto: Ust. Thoriq Abu Azkar sebagai pemateri pertama.

 Foto: Ust. Azwir Ibnu Aziz sebagai pemateri kedua




 Foto:[atas] Para peserta ikhwan


 Foto:[atas] Para peserta Akhwat


Sunday, November 10, 2013

Gema Pembebasan Sumut: “Lawan Penjajahan Dan Tindakan Spionase Amerika”

HTI Press, Medan. Beberapa kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Sumut melakukan aksi damai untuk menolak sekaligus melawan tindakan penjajahan berupa Spionase atau penyadapan yang dilakukan oleh Amerika terhadap Indonesia pada Sabtu (9/11/2013).
Dengan mengusung tema “Lawan Penjajahan Dan Tindakan Spionase Negara Teroris Amerika”, aksi yang dimulai dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB ini diikuti oleh beberapa kelompok mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Sumatera Utara seperti Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (Unimed), IAIN Sumut, PTKI, UISU, Politeknik Negeri Medan (Polmed), STMIK Triguna Dharma, AKPER Sari Mutiara, dan juga dari STAIS Sumut.
Massa yang terdiri dari beberapa kelompok mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Sumatera Utara ini bergerak dari Lapangan Merdeka Medan menuju Gedung Konjen AS yang terletak di Jl. MT. Haryono Medan tidak jauh dari titik kumpul Lapangan Merdeka.
Beberapa orator yang melakukan orasi pada kesempatan aksi kali ini diantaranya Ahyar Munawar (UNIMED), M. Aswan Batubara (IAIN Sumut), Hidayat Syahputra (Polmed), Ruslan Effendi (PTKI), Wahyu Prasetyo (USU).
Ahyar Munawar selaku orator pertama menyampaikan mengenai tindakan spionase yang dilakukan oleh Amerika berupa penyadapan yang merupakan bentuk penjajahan ala Amerika.
“Kita harus menolak spionase yang dilakukan Amerika karena Amerika adalah teroris yang sesungguhnya” ucap Ahyar saat berorasi
Orasi kedua disampaikan oleh M. Aswan Batubara yang menyampaikan berupa fakta yang dilakukan Amerika berupa tindakan spionase dan penjajahannya yang dilakukan diseluruh negeri-negeri Islam. Sekaligus menyampaikan penentangan terhadap idoelogi kapitalisme Amerika.
“Ideologi Kapitalisme telah gagal menyatukan umat, maka diganti dengan ideologi Islam” ujarnya
Dilanjutkan oleh orator ketiga oleh Hidayat Syahputra yang memberikan pemaparan mengenai kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, nasionalisme adalah ide kufur racun bagi Negara dan masyarakat.
“Akibat demokrasi kita menjadi terpecah belah karena demokrasi merupakan ide dari syetan” ungkap Hidayat Syahpura dihadapan para peserta aksi.
Orator berikutnya oleh Ruslan Effendi yang memberikan semangat kepada para peserta aksi gerakan mahasiswa agar bangkit melawan penjajahan menuju Indonesia lebih baik dengan syariah khilafah sebagai Solusi.
“Ekonomi kita sudah dijajah karena kapitalisme, mari kita bangkit untuk menegakkan syariah dan khilafah” ucap Ruslan Effendi.
Orator terakhir menyampaikan mengenai janji Allah tentang tegaknya Khilafah yang membawa kabaikan bagi seluruh umat dan meninggalkan sistem kapitalisme.
“Sistem kapitalisme Amerika telah menyengsarakan kita. Saatnya kita campakkan dan kembali ke sistem Islam” ujarnya kepada para peserta aksi GEMA Pembebasan Sumut.
Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sebuah pernyataan sikap dari Pengurus Pusat GEMA Pembebasan oleh Ahyar Munawar. Pada pernyataan ini disampaikan bahwa GEMA Pembebasan menyatakan kepada pemerintah Indonesia untuk mencabut izin pembangunan Kedubes AS dan menutup kedubes tersebut. Kemudan juga menyerukan kepada seluruh mahasiswa untuk menolak segala bentuk penjajahan Amerika.
Tak ketinggalan pada kesempatan aksi kali ini GEMA Pembebasan Sumut juga mempertunjukkan sebuah treatikal yang menggambarkan bagaimana pemimpin negeri ini telah bekerja sama dan menjadi antek dari negara panjajah Amerika. Aksi damai kali ini ditutup dengan do’a yang dibawakan oleh Ilham Fauzi (IAIN Sumut). Usai aksi para peserta meninggalkan Gedung Konjen AS dan kembali ke Lapangan Merdeka dengan tertib.[]Yogi