Live Streaming Muktamar Khilafah 2013 Jakarta

Saksikan Live Streaming Muktamar Khilafah 2 Juni 2013 Gelora Bung Karno, Jakarta

Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5

Semarak Aksi Rampak Bedug Muktamar Khilafah Sumut 26/5/13. Dukungan kaum muslimin semakin besar terhadap tegaknya Khilafah

Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Stadion Teladan 26 Juni 2013 Menjadi saksi Dukungan Warga Medan Terhadap Syariah dan Khilafah

Jejak Syariah dan Khilafah di Sumatera

Gema syariah dan khilafah di Nusantara kian nyaring terdengar. Bahkan menurut sebuah harian Ibukota, diberitakan bahwa beberapa waktu lalu digelar debat terbuka di kampus Unpad Bandung bertemakan penerapan syariat Islam dengan pembicara dari Tokoh Islam, M. Ismail Yusanto dan fungsionaris Parpol Nasrani, Pdt Ruyandi Hutasoit.

Halqah Islam dan Peradaban

Pengamant Politik USU : Umat Islam harus pilih Ideologi Islam

Tuesday, March 19, 2013

Shaikh Sayyid Qutb Rahimahullâh : Islam Hanya Mengenal Dua Jenis Masyarakat: Islami dan Jahiliyah

Masyarakat Islami adalah masyarakat yang di dalamnya mereka menerapkan Islam, akidah dan ibadahnya, syariah dan sistemnya, serta akhlak dan perilakunya. Sementara masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang di dalamnya mereka tidak menerapkan Islam, tidak diatur berdasarkan akidah Islam dan persepsinya, tidak menerapkan nilai dan timbangannya, sistem dan syariahnya, serta akhlak dan prilakunya.

Masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang di dalamnya berkumpul orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim, sedangkan syariah Islam bukanlah konstitusi bagi masyarakat ini, sekalipun mereka shalat, puasa dan berhaji ke Baitullah! Masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang menciptakan sendiri Islam untuk dirinya, yakni bukan Islam yang ditetapkan oleh Allah SWT, dan dijelaskan oleh Rasulullah, serta bukan semisal yang disebutnya Islam modern!

Shaikh Sayyid Qutb Rahimahullâh
www.facebook.com / TheReturnOfIslamicCaliphate

Kritik Tajam Ulama Jatim Terhadap Demokrasi

(Catatan Halaqah Ulama Jawa Timur 9-10 Maret di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya)

Fakta-fakta politik termutakhir di pentas Nasional dan Internasional menjadi keprihatinan para Ulama, Kyai dan Asatidz se-Jawa Timur. Adanya praktek korupsi di legislatif, eksekutif bahkan yudikatif adalah di antaranya. Fakta terbaru ketua umum dua partai peserta Pemilu menjadi tersangka KPK, yang salah satunya adalah partai politik Islam. Korupsi juga merajalela di kalangan eksekutif, misalnya banyak bupati dan kepala dinas yang menjadi pesakitan di ruang hukuman. Lebih ironi lagi, institusi  yudikatif yang seharusnya penegak keadilan juga terjerat korupsi semisal dalam kasus hakim tipikor nakal.

Fakta lain seperti money politik dan konflik horizontal dalam pemilukada yang berbiaya tinggi, perseteruan internal partai politik, separatisme Papua, teror atas nama terorisme, sampai politik Internasional seperti sengketa wilayah di Sabah dan optimisme terhadap kemenangan revolusi Suriah. Jika ditambah dengan bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan kesehatan, maka menjadi semakin panjanglah daftar potret buram kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita.

Ulama, Pewaris Nabi

Berbagai keprihatinan dan kegalauan Ulama peserta Halaqah Ulama sejawa timur ditumpahkan dalam diskusi selama dua hari (9-10/03/2013) di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.  Berangkat dari keprihatinan tersebut Ulama Jawa Timur merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi dalam usaha memperbaikinya. Para ulama ingin mengubah kondisi buram tersebut menjadi kondisi yang dikehendaki Al Quran dan As Sunnah. Ulama adalah pewaris para Nabi, maknanya bukan mewarisi hartanya melainkan mewarisi ilmu dan risalah yang diembannya.

Ulama tidak hanya faqih fiddin , tetapi juga menjadi marja’/referensi umatnya, aktif berdakwah membina umat dan ber-amar ma’ruf nahy munkar serta berjuang untuk tegaknya Islam li ilaai kalimatillah  dan Izzul Islam wal muslimin. Al Quran menyebutnya sebagai “Innama yakhsyallahu min ibadihil ulama”, yang artinya bahwa ulama adalah termasuk orang yang sangat takut kepada Allah. Takut kepada Allah jika tidak mengajarkan ilmu yang diketahuinya, takut jika tidak mengamalkannya dan takut jika tidak memperjuangkan Dinul Islam dan syariah-Nya.

Dan untuk memperjuangkan perubahan ke arah yang lebih baik tersebut, para ulama menyadari sepenuhnya bahwa upaya perubahan harus sesuai dengan perubahan yang diteladankan Rasulullah saw yakni perubahan fikriyah (mind set) yaitu berdasarkan akidah dan ideologi Islam. Yang kedua perubahan harus dilakukan secara berjamaah, tidak sendirian. Selanjutnya perubahan dilakukan dengan tahapan dakwah seperti yang dilakukan Rasulullah, mulai dari edukasi umat (tatsqif), perjuangan politis (kifahus siyasi) sampai diterapkannya syariah Islam secara kaffah di semua bidang kehidupan dalam sebuah pemerintahan Islami.

Demokrasi sebagai Biang Kerusakan Kehidupan

Dalam Halaqah Ulama yang diikuti 150 ulama, kyai dan asatidz sejawa timur telah dibahas dan ditelaah bahwa akar masalah carut marut kehidupan politik saat ini merupakan buah dari penerapan sistem yang berlaku saat ini yaitu demokrasi-sekulerisme. Demokrasi tidak hanya  bermasalah secara prosedural sebagaimana yang telah ada faktanya, tetapi demokrasi juga bermasalah secara substansialnya yaitu memarjinalkan aturan Allah SWT dan RasulNya. Sehingga yang menjadi problem utama (qadhiyyah mashiriyah) kaum muslimin saat ini adalah belum diterapkannya syariah Islam secara paripurna.

Para ulama telah berkesimpulan bahwa demokrasi adalah sesat pikir Barat yang layak ditinggalkan karena memang tidak berasal dari Islam. KH Satiman (ulama Pacitan) menyatakan, “ Jika kita mengetahui hakikat demokrasi-sekuler, maka kita akan mengetahui betapa bahayanya demokrasi itu.” Kalau ada kemiripan dalam prosedural demokrasi seperti syura bukan berarti Islam mengandung ide demokrasi karena landasan berfikirnya sudah berbeda secara diametral. Lebih jauh lagi, para ulama juga menyimpulkan bahwa jika demokrasi meminggirkan hukum Allah SWT dalam Al Quran dan Al Hadits, maka menjadi haram untuk mengambil demokrasi, menerapkan dan mempropagandakannya. Salah satu peserta halaqah Ustadz Edi Wicaksono dari Bojonegoro menegaskan, “ Demokrasi memang harus dicampakkan.”.

Dan sebagai solusi pengganti terhadap sistem demokrasi sekuler, para ulama menawarkan sistem Khilafah Islamiyah yang telah dipraktekkan oleh para sahabat Rasulullah saw, para Khulafaur Rasyidin dan penerusnya selama 13 abad. Para ulama telah bertekad memperjuangkan sistem Ilahiah ini sebagai kewajiban seluruh kaum muslimin.

Semua diktum tadi telah dituangkan dalam ifta’ (fatwa) Ulama Jawa Timur. Pembacaan fatwa pada Sidang Komisi oleh KH. Abdul Qoyyum (ulama Malang), KH. Farid Ma’ruf, MA (ulama Jombang) dan KH. Asyrofi (ulama Banyuwangi). Di akhir halaqah dilakukan Konferensi Pers, setelah semua peserta halaqah menandatangani Fatwa Ulama Jawa Timur. Selanjutnya fatwa tersebut akan disampaikan ke seluruh masyarakat di Jawa Timur.

Mendukung Perjuangan Rakyat Suriah

Tidak luput dari perhatian para Ulama peserta Halaqah adalah revolusi yang terjadi di Suriah. Sebagai rentetan dari pergolakan politik di Afrika Utara dan Timur Tengah yang dikenal dengan Arab Springs. Revolusi Suriah merupakan babak baru dalam Arab Springs, yang berbeda dengan yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Ketidakmampuan negara-negara Barat sekuler-demokratis untuk membajak revolusi Suriah menjadi perhatian besar para ulama. Sampai-sampai melalui kaki tangan dan antek Barat dalam koalisi nasional pun tidak mampu merebut hati rakyat Suriah.

Revolusi Suriah merupakan rentetan dari pergolakan politik di Afrika Utara dan Timur Tengah yang dikenal dengan Arab Springs. Revolusi Suriah merupakan babak baru dalam Arab Springs, yang berbeda dengan yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Ketidakmampuan negara-negara Barat sekuler-demokratis untuk membajak revolusi Suriah menjadi perhatian besar para ulama. Sampai-sampai melalui kaki tangan dan antek Barat dalam koalisi nasional pun tidak mampu merebut hati rakyat Suriah.

Kesabaran dan keteguhan rakyat Suriah telah ditunjukkan selama menghadapi teror, penjagalan dan  pemboman rezim Bashar Assad. Kegigihan perjuangan rakyat Suriah dengan mujahidin selama dua tahun terakhir terus mengalami kemajuan signifikan dengan berhasil masuk ke Damaskus dan mampu menyentuh istana si bangsat Bashar. Yang menjadi keunikan revolusi Suriah berikutnya adalah arah perjuangannya, bukan negara demokrasi-sipil yang diinginkan. Telah ada piagam yang disepakati belasan brigade mujahidin di Suriah, bahwa mereka bertekad dan terus berjuang untuk menumbangkan Bashar Assad dan menggantikannya dengan khilafah islamiyah.

Sebagai simpati yang mendalam kepada perjuangan rakyat Suriah. para ulama peserta halaqah memberikan dukungan moral berupa doa dan opini. Bahwa perjuangan rakyat Suriah tidak sendirian, tetapi didukung oleh seluruh kaum muslim sedunia yang mencita-citakan kejayaan umat, termasuk ulama di Jawa Timur.

Fajar harapan kemenangan telah terbit. Kegelapan malam era demokrasi segera sirna. Demokrasilah yang telah mengantarkan kepada ketidakadilan global. Demokrasilah yang telah menjerumuskan ke jurang krisis kemanusiaan. Kejayaan Islam yang rahmatan lil alamin segera hadir kembali. Allahu a’lam bis shawab. [] panitia halaqah ulama jatim





Insya Allah, Syam Akan Kembali Jadi Ibukota Khilafah !

Ketua lajnah tsaqofiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Hafidz Abdurrahman, mengatakan bahwa Syam penah menjadi Ibukota Khilafah dan akan kembali menjadi Ibukota Khilafah.

“Pangkal dan tempat Darul Islam (khilafah) adalah Syam,” ujarnya mengutip hadits riwayat Thabrani, saat kegiatan Dirosah Syar’iyyah ke 23, Sabtu (16/3) di Kantor DPP HTI, Crown Palace, Jakarta.

Ia menuturkan Syam merupakan tanah pilhan Allah yang ditempati oleh makhluk pilihan. Di Syamlah khilafah mengalami era keemasannya lalu kemudian menyebar ke dua per tiga dunia.

Pergolakan revolusi di Suriah sejak 2 tahun terakhir diyakini akan menuai titik terang dengan terjadinya revolusi Islam dan kebangkitan Khilafah Islamiyah.

Hafidz mengutip pernyataan Fred Gredrich seorang analisis departemen pertahanan Amerika Serikat yang memetakan kubu-kubu bertikai di medan jihad Suriah.

“Ia yakin dengan prediksi bahwa revolusi Suriah akan berakhir dengan tegaknya Syariah Islam dan kemunculan tanda-tandanya semakin menguat,” kutipnya.

“Ingatlah Khilafah Islamiyah akan tegak dengan izin dan pertolongan Allah dengan kita atau tanpa kita, karena ini adalah janji Allah. Jika kita tidak berjuang Allah telah menyiapkan yang lain untuk mewujudkan janji itu,” pungkasnya. (mediaumat.com, 16/3)

Diskusi Publik Islam Vs Demokrasi Kota Padang Sidempuan

“Kita haram menerapkan demokrasi karena dalam demokrasi, kedaulatan di tangan rakayat dan menjadikan manusia sebagai sumber hukum. Sementara, dalam Islam hak untuk membuat hukum hanyalah Allah SWT” papar Muhammad Yusran Ramli , DPD I HTI Sumut dalam Diskusi Publik Islam VS Demokrasi. Acara yang berlangsung di Aula Islamic Centre komplek Masjid Raya Kota Padang Sidempuan ini berlangsung cukup meriah. Acara dibuka denggan Sambutan Ketua DPD II HTI Kota Padang Sidempuan, Ust Abu Umar dan dipandu moderator Ust. Syarifuddin.

Sebanyak 70 orang peserta yang berasal dari kota Padang Sidempuan, Panyabungan dan Sibolga Sumatera Utara memenuhi Aula gedung yang juga dipakai sebagai kantor MUI Kabupaten Tapanuli Selatan. Lebih lanjut, pembicara menjelaskan beberapa bahaya demokrasi dengan prinsip kebebasannya. Kebebasan beragama yang dijajakan demokrasi telah melegalkan terjadinya penyebaran aliran sesat. Sementara dibalik kebebasan kepemilikan (freedom of ownership), tersimpan bahaya penjajahan gaya baru di negeri ini. Kekayaan sumber daya alam seperti tambang emas yang ada di Sumut, akhirnya jatuh ke tangan asing dengan dalih kebebasan kepemilikan. Meski Sumatera Utara memiliki kekayaan alam yang cukup berlimpah mulai dari emas, panas bumi, sumber air (PLTA), namun tidak dapat dinikmati secara langsung oleh rakyat. Sistem demokrasi telah menyengsarakan rakyat di negeri ini. Oleh Karena itu sudah saatnya system demokrasi dicampakkan dan diganti dengan system Islam di bawah naungan Khilafah. []

Monday, March 18, 2013

Muktamar Khilafah Medan 26 Mei 2013

Muktamar Khilafah 1434 H/2013
Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah


PENDAHULUAN

Khilafah adalah suatu kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang didirikan untuk satu tujuan, yaitu menegakkan hukum syariah Islam, bukan hukum yang lain.

Walhasil, keberadaan Khilafah itu bukanlah demi kekuasaan atau pemerintahan itu sendiri, melainkan untuk menegakkan syariah Islam yang memang wajib hukumnya. Khilafah ada demi syariah.

Di sini tepat sekali kita mengingat penegasan Imam Ghazali dalam kitabnya al-Iqtishad fi al-I’tiqad mengenai eratnya hubungan kekuasaan dan agama. Atau dengan kata lain, eratnya hubungan Khilafah dan syariah. Kata Imam Ghazali,"Ad-diinu ussun wa as-sulthaanu haris. Wa maa laa ussa lahu fa-mahdumun wa maa laa harisa lahu fa-dhaa`i’." (Agama adalah asas dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak ada asasnya akan roboh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan hilang).

Jadi, kewajiban Khilafah sebenarnya sekedar mengikut pada tujuan asal yang menjadi sebab didirikannya Khilafah, yakni penegakan syariah. Kaidah fiqih mengatakan at-taabi’ taabi’ (Apa saja yang mengikuti [sesuatu yang lain], hukumnya mengikuti sesuatu yang lain itu). Maka menegakkan Khilafah wajib karena mengikuti hukum menegakkan syariah Islam yang statusnya wajib.

Menegakkan syariah adalah suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar-lagi lagi. Menegakkan syariah adalah kewajiban yang sudah final dan tidak boleh dibatalkan oleh siapa pun dan dalam masa kapan pun.

Namun mustahil kita menjalankan kewajiban menerapkan syariah secara menyeluruh (kaffah) tanpa adanya Khilafah sebagai pemerintahan yang pro-syariah. Maka dari itu, tepat sekali para ulama mewajibkan Khilafah karena tidak mungkin kita menjalankan kewajiban penegakan syariah, tanpa Khilafah. Kaidah fikih menegaskan maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa waajib (jika suatu kewajiban tidak dapat terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya).

Ini dari sisi bahwa Khilafah adalah kewajiban agung yang harus ditegakkan oleh Umat Islam. Dari sisi lain, Kapitalisme sebagai ideologi yang diterapkan di dunia saat ini nyata-nyata telah gagal dalam menyelesaikan berbagai problematika umat manusia. Kapitalisme telah berhasil menjerumuskan umat manusia kepada titik yang paling hina dan menjadikan manusia sebagai makhluk yang nista.

Oleh sebab itu bersamaan di Bulan Mei – Juni 2013 tepat pada bulan Rajab keruntuhan Khilafah Turki Utsmani, sekaligus mengingatkan umat Islam akan kewajibannya untuk menegakkan Khilafah dan memberikan kabar gembira kepada mereka akan hadirnya kembali Khilafah Islam maka Hizbut Tahrir Indonesia berencana melaksanakan Muktamar Khilafah 1434 H

TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan
1.      Membangun opini utama Gagasan Khilafah:
2.      Kritik atas Demokrasi, Nasionalisme dan Separatisme.
3.    Membangun Suasana Perubahan Besar Untuk Indonesia Lebih Baik, Dari Politik Liberalisme Menuju Khilafah.
4.      Menjadi Inspirasi bagi umat Islam dunia untuk perubahan besar dunia menuju Khilafah.

MATERI PEMBAHASAN
1.      Dunia Sedang Berubah
2.      Perubahan Besar untuk Indonesia Lebih Baik
3.      Pidato Politik

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Kegiatan ini insya Allah akan diselenggarakan di Seluruh Kota Besar di Santero Nusantara dan untuk Medan akah diadakah pada :
Hari/tanggal                       : Ahad, 26 Mei 2013M.
Waktu                                   : 07.00-13.00 WIB
Tempat                                : Lapangan Benteng Medan

PEMBICARA DAN ORATOR
* dalam konfirmasi

BENTUK KEGIATAN
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk penyampaian orasi para tokoh Islam Indonesia tentang Syariah dan Khilafah, parade bedug, aksi teatrikal lapangan, ceramah oleh para pembicara dan temu tokoh Islam Indonesia dan Luar Negeri dan di Medan akan di pandu Oleh Mantan Roker yang kini telah menjadi pejuang Islam bersama Hizbut – Tahrir yakni, Harry Mukti

SASARAN DAN TARGET PESERTA
Peserta kegiatan ini adalah para ulama’, tokoh masyarakat, pimpinan ormas/gerakan Islam, tokoh partai politik, anggota dan simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia, anggota ormas-ormas, lembaga dan gerakan Islam serta masyarakat Islam Indonesia dengan target peserta 1/5 juta orang.

TEKNIS KEPESERTAAN
Siapa saja kaum muslimin tidak melihat suku ras bangsa bahasa boleh mengikuti agenda ini dengan membayar kontribusi tiket sebesar :

Umum/Pelajar/Mahasiswa           : Rp.  10.000/orang
VIP                                                           : Rp.  40.000/orang
VIP                                                           : Rp.300.000/orang




Saturday, March 9, 2013

Remaja Islam Tembung Percut Sei Tuan Siap Menjadi Pembela Islam

Puluhan remaja mengikuti acara Traning Remaja Islam di Masjid Istiqomah Jl.Pancasila Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan. Peserta datang dari berbagai utusan remaja masjid Tembung dan sekitarnya untuk mengikuti acara dengan tema “Menjadi  Pembela Islam”. Acara Traning dibuka oleh Host Muda Syahri tepatnya Pukul 9:15 dengan penuh semangat membangkitkan peserta dalam mengikuti traning tersebut.

Sementara  sambutan  hangat dari ketua panitia ust Muhammad Ali Rukun ST, S.Pdi juga ikut menambah  semangat peserta dimana ust muda ini juga menjelaskan tentang pentingnya menjadi seorang pembela Islam  dengan  melihat kondisi generasi saat ini yang semakin jauh dari Islam apalagi setelah runtuhnya Institusi Islam Khilafah Islamiyah  Maret 1924 di Turki. Dan tepatnya hari ini 3 Maret 2013 genap 89 Tahun umat Islam hidup tanpa pemimpin (Khalifah) dan diatur dengan aturan bukan Islam dalam kehidupan.

Traning Remaja Islam ini diisi oleh Trainer muda Ust Saiman Arrasyid dengan semangat yang berapi-api sehingga membuat para peserta semangat mengikuti acara yang diakan oleh Hizbut Tahrir Percut Sei Tuan ini. Acaranya dibagi menjadi 2 Sesi, Sesi I dengan materi “The Power of Youth” dan Sesi II dengan materi “ Sang Penakluk”. Pada Materi I Traner Ust Saiman yang juga mantan Ketua Lembaga Dakwah Kampus ITM (Institut Teknologi Medan) ini menjelaskan tentang kondisi rusaknya generasi muda saat ini dengan berbagai kasus kemaksiatan mulai dari masalah tawuran narkoba, aborsi, prostitusi dan lainnya masih menyelimuti kalangan remaja dengan menampilkan berbagai video kerusakan tersebut pada peserta. Kemudian beliau juga menjelaskan solusi atas problematika remaja ini adalah harus kembali pada Islam terlebih-lebih menjadi seorang pembela Islam dan pejuang sejati.

Selanjutnya Materi kedua “Sang Penakluk” menjelaskan tentang bagaimana perjuangan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstatinopel. Dimana pada saat itu negeri super power ini sangat sulit ditaklukkan, akan tetapi dengan usaha maksimal, Bisyarah Rasulullah, dan Pertolongan Allah akhirnya Konstatinopel takluk ditangan sultan Muhammad Al-Fatih. Dengan melihat sejarah sang penakluk peserta diajak untuk mengikuti jejak beliau dengan sebuah npertanyaan “siapa lagi kalau bukan kita?”. Kemudian acara ditutup dengan komitmen bersama menjadi pembela islam dan siap mengaji bersama Hizbut Tahrir Percut Sei Tuan dan membacakan do’a bersama untuk mendapatkan Ridho Allah dan pertolongan Allah. (Abu Khalisah)


Wednesday, February 27, 2013

Halqah Dirasah Ulama HTI Deli Serdang

Ahad (24/02/2013), bertempat di Kantor HTI Deli Serdang Jl. Perintis Kemerdekaan No. 112 Tamora Pekan pukul 09.00 WIB, DPD II HTI Deli Serdang menyelenggarakan Halqah Dirasah Ulama. Tema yang diangkat pada Halqah Dirasah Ulama kali ini adalah “Demokrasi Sistem Kufur Yang Merusak”, dengan pemateri Ust. Abu Zahid al-Maidany. Allhamdulillah acara berjalan lancar walaupun sebelumnya hujan sempat turun, namun tidak menyurutkan langkah para undangan untuk menghadiri acara ini. Acara dihadiri oleh para ustadz serta pengurus BKM yang selama ini rutin berdialog dengan syabab-syabab HTI Deli Serdang.

Diskusi berjalan hangat, apalagi tema yang diangkat terkait Demokrasi beserta turunan-turunannya. Suasana politik SUMUT yang panas menjelang PILKADA-SU tanggal 7 Maret 2013, juga menjadi bahan diskusi yang paling banyak ditanyakan oleh peserta halqah. Seperti pertanyaan “Dari kelima calon CAGUB dan CAWAGUB SUMUT, yang mana menurut HTI sesuai menurut standar Islam dan harus didukung?” Pertanyaan ini dijawab lugas oleh Ust. Abu Zahid bahwa tuntutan keimanan kita mengajarkan bahwa seorang pemimpin itu dipilih harus dengan memenuhi dua syarat utama yakni;1). syarat sah kepemimpinan yang mencakup didalamnya 7 syarat in’iqad yakni: Muslim, Laki-Laki, Baligh, Berakal, Adil, Merdeka, Mampu, 2). Siap menerapkan syariat Islam secara kaffah, jika dua syarat utama ini ada pada diri salah satu calon wajib didukung umat, bila tidak ada maka umat harus berusaha mewujudkannya. Pertanyaan lain juga muncul seperti “Model kepemimpinan dan syarat yang diajukan HTI adalah model sistem pemerintahan Islam, sedangkan sekarang kita berada di Negara Demokrasi jadi harus ikut mekenisme Demokrasi?”  Pertanyaan ini dijawab dengan menjelaskan tiga hal; 1). Kewajiban setiap muslim untuk terikat dengan hukum syara dimanapun dan kapanpun, dalam segala hal termasuk urusan politk, itu sebabnya sistem politik ideal Islam yakni Khilafah wajib diperjuangkan; 2). Kita hidup di alam demokrasi adalah Qadha Alloh bukan untuk disesali ataupun berpasrah diri, apalagi kita wajib melakukan perubahan jika kondisi kita saat ini jauh dari Islam seperti saat ini menuju kondisi yang Islami, sesuai firman Alloh dalam surat ar-Raddu: 11, 3). Demokrasi bertentangan dengan aqidah Islam, penuh kerusakan dan berbahaya bagi umat, maka haram diperjuangkan dalil-dali tentang kerusakan Demokrasi telah dipaparkan sebelumnya dalam slide.

Semoga Alloh semakin menguatkan opini Syariah dan Khilafah beserta para pengembannya, dan semoga kesadaran umat akan pentingnya penerapan Syariah serta penegakan Khilafah semakin meluas, dan biidznilah hal itu akan terwaujud tidak lama lagi, amin yaa Rabb al-‘Alamin. Wallahu a’lam. [Abu Zahid]